Perawatan dan Peninggian Irigasi Swakelola dari UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna Menimbulkan Pertanyaan Serius tentang Kualitas dan Standar Teknis

Busurpena.com | Lebak, 18 Juni 2026 — Upaya perawatan dan peninggian jaringan irigasi yang dilakukan oleh UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna menggunakan material bata ringan (Hebel) menuai perdebatan dan berbagai pertanyaan mendalam dari berbagai kalangan, terutama terkait aspek kualitas, kehandalan, dan kesesuaian standar teknisnya.

Hasil pantauan langsung tim investigasi di lapangan menunjukkan bahwa peninggian jaringan irigasi tersebut, yang berlokasi di Kampung Cikesik, Desa Malingping Selatan, Kabupaten Lebak, dilakukan dengan menggunakan bata ringan (Hebel) dalam rangka meningkatkan performa dan memperpanjang umur jaringan irigasi yang menjadi wadah utama pengairan di wilayah tersebut. Penggunaan material ini memunculkan keraguan terhadap daya tahan jangka panjang serta efektivitasnya dalam mendukung kebutuhan irigasi yang krusial bagi masyarakat lokal.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

 

 

 

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, (H.K) selaku kepala seksi operasional dan pemeliharaan UPTD Pengelolaan DAS Ciliman-Cisawarna Provinsi Banten mencoba memberikan penjelasan terkait langkah tersebut. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut sudah melalui kajian mendalam, dengan memperhitungkan debit air, kecepatan aliran, dan daya tekan dalam rangka memastikan kekuatan dan efektivitasnya. Ia menyebutkan bahwa “menggunakan batu belah justru kurang efektif karena luas penampangnya kecil dan kekuatannya tidak cukup; sebaliknya, bata atau Hebel dengan bentuk simetris dan luas penampang yang proporsional bisa memperkuat gaya tekan, serta menjadi solusi cepat sesuai keinginan masyarakat.” Ia juga menambahkan bahwa langkah tersebut diambil sebagai respons cepat terhadap kebutuhan dan aspirasi warga setempat.

Namun, di balik penjelasan tersebut, masyarakat dan pengamat pembangunan irigasi menaruh keraguan besar terhadap metode dan material yang dipakai. Banyak pihak mempertanyakan ketahanan jangka panjang, standar kualitas, serta pengawasan yang seharusnya dilakukan dalam proyek yang menggunakan dana negara ini.

Lebih jauh, sejumlah masyarakat dan ahli teknik sipil menilai langkah ini belum memenuhi standar urgensi dan keselamatan konstruksi irigasi yang memadai. Mereka menilai bahwa penggunaan bata ringan (Hebel), yang biasanya dikenal sebagai material bangunan ringan dan bukan sebagai penguat struktur irigasi, berpotensi menimbulkan risiko kerusakan di masa mendatang serta membuang-buang uang negara jika tidak diatur dengan prosedur yang ketat dan transparan.

Mengakhiri pernyataannya, pihak masyarakat Lebak menyampaikan harapan besar agar pembangunan dan perawatan irigasi ini tidak hanya berjalan secara asal-asalan, tetapi harus mampu bertahan lama dan memberi manfaat optimal bagi petani dan masyarakat. Mereka juga mengajak lembaga pengawas negara, terutama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), untuk segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap biaya dan proses perawatan jaringan irigasi ini, demi mencegah adanya penyimpangan dan memastikan penggunaan dana publik dilakukan secara akuntabel dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, masyarakat dan pengamat berharap agar proyek-proyek pengelolaan sumber daya air di Lebak dapat dilakukan secara profesional, sesuai standar teknis, dan berorientasi pada keberlanjutan serta kesejahteraan rakyat. Karena, irigasi bukan hanya sekadar infrastruktur, tetapi fondasi utama untuk masyarakat.

(Tim)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *