Aktivitas perbaikan perahu motor di kawasan Dermaga Pambu, Desa Buncu, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima. Ft. Asfaran
BIMA, BUSER PENA.COM – Aktivitas sederhana membantu seorang teman memperbaiki perahu motor di Dermaga Pambu, Desa Buncu, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, justru menghadirkan pemandangan yang mengundang banyak pertanyaan. Dermaga tersebut berada tepat di depan SDN yang menjadi tempat anak-anak menuntut ilmu setiap hari. 29/08/2026

Kondisi di sekitar sekolah masih memperlihatkan persoalan yang cukup umum dijumpai di kawasan pesisir. Sampah plastik terlihat berserakan di sekitar tepian pantai dan lingkungan dermaga. Pemandangan tersebut terasa kontras dengan keberadaan sekolah yang seharusnya menjadi salah satu tempat menanamkan kesadaran tentang kebersihan dan lingkungan kepada generasi penerus.
Tidak jauh dari kawasan tersebut, terdapat pula lapangan yang pernah digunakan untuk turnamen pacuan kuda tingkat Pulau Sumbawa pada tahun sebelumnya. Kini, kondisi lapangan tersebut terlihat tidak lagi terawat dan terkesan terbengkalai. Desa Buncu sendiri juga belum memiliki lapangan umum yang dapat digunakan masyarakat secara berkelanjutan untuk berbagai kegiatan olahraga dan kemasyarakatan.
Pemandangan itu kemudian membawa pertanyaan sederhana: apakah pembangunan dan perhatian terhadap fasilitas publik di daerah harus berhenti setelah sebuah kegiatan selesai?
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan kegiatan yang meriah pada waktu tertentu. Anak-anak yang membutuhkan ruang bermain, pemuda membutuhkan fasilitas olahraga, masyarakat membutuhkan ruang berkumpul, sementara sekolah membutuhkan lingkungan yang bersih dan layak bagi proses pendidikan.
Pertanyaan tersebut semakin terasa ketika mengingat momentum upacara peringatan kemerdekaan
yang baru saja berlangsung. Upacara yang secara nasional menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu justru menjadi ruang untuk kembali bertanya mengenai tanggung jawab para pemimpin kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaan upacara tersebut, terlihat adanya perbedaan fasilitas yang cukup mencolok. Para pejabat dan tamu tertentu mendapatkan panggung yang megah dan tempat yang lebih terlindungi, sementara di hadapan mereka terdapat para guru, termasuk guru honorer, yang harus mengikuti rangkaian upacara tanpa fasilitas perlindungan yang sama dari terik matahari.
Di sinilah pertanyaan mengenai keadilan sosial terasa semakin kuat. Para guru yang setiap hari mendidik anak-anak dengan segala keterbatasannya semestinya juga mendapat penghormatan yang layak. Mereka bukan sekadar peserta upacara, tetapi bagian penting dari proses membangun generasi bangsa.
Bukan persoalan siapa yang boleh mendapatkan panggung atau fasilitas yang lebih baik. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah perbedaan fasilitas tersebut sudah mencerminkan rasa keadilan bagi seluruh masyarakat? Jika sebuah bangsa berbicara tentang persatuan dan keadilan sosial, maka penghormatan terhadap mereka yang bekerja untuk kepentingan masyarakat semestinya tidak berhenti pada simbol dan seremonial.
Kritik tersebut bukan berarti menghendaki semua orang harus diperlakukan sama dalam setiap keadaan. Kebutuhan dan tanggung jawab setiap orang memang dapat berbeda. Namun, kesenjangan yang terlalu mencolok di hadapan rakyat dapat menimbulkan rasa tidak adil, terlebih ketika mereka yang berada di bawah justru menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan masyarakat.
Pancasila melalui sila kelima mengamanatkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Prinsip tersebut semestinya tidak hanya terpampang dalam teks, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ukuran keadilan pada akhirnya bukan sekadar bagaimana fasilitas dibagikan, tetapi apakah setiap warga merasa dihargai dan memperoleh kesempatan yang layak.
Di tengah kondisi tersebut, demokrasi juga seharusnya menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kegelisahan. Ketika rakyat merasa kesulitan dan mahasiswa menyuarakan aspirasi mereka, yang dibutuhkan bukan hanya nasihat agar masyarakat bersabar. Yang lebih penting adalah mendengar apa yang sebenarnya sedang mereka keluhkan dan mencari jalan keluarnya.
Kritik terhadap pemerintah, aparat, maupun penguasa tidak semestinya selalu dipandang sebagai ancaman. Dalam negara demokrasi, suara masyarakat dapat menjadi pengingat agar kekuasaan tidak kehilangan arah. Namun, penyampaian aspirasi juga harus tetap dilakukan secara damai dan bertanggung jawab, tanpa kekerasan maupun tindakan yang merugikan masyarakat lainnya.
Dari sebuah dermaga kecil di Desa Buncu, persoalan yang terlihat sebenarnya sederhana: sampah di depan sekolah, fasilitas olahraga yang tidak terawat, dan belum tersedianya ruang publik yang memadai. Tetapi dari persoalan kecil tersebut muncul pertanyaan yang lebih besar tentang bagaimana pembangunan seharusnya dirasakan oleh masyarakat di tingkat paling bawah.
Indonesia tidak kekurangan orang yang ingin bekerja, guru yang ingin mendidik, nelayan yang ingin mencari nafkah, pemuda yang ingin berolahraga, maupun mahasiswa yang ingin menyampaikan
suara rakyat. Yang sering dipertanyakan adalah apakah semua itu sudah mendapatkan perhatian yang semestinya.
Kemerdekaan yang diperingati setiap tahun semestinya tidak hanya menjadi seremoni. Kemerdekaan juga berarti memastikan rakyat dapat hidup dengan layak, anak-anak memperoleh lingkungan pendidikan yang baik, masyarakat mempunyai ruang publik, dan suara mereka dapat didengar tanpa harus merasa menjadi musuh baqi negaranya sendiri.
Dari Dermaga Pambu, bu, pertanyaannya mungkin sederhana, tetapi jawabannya menjadi tanggung jawab bersama: apakah kita akan membiarkan kondisi seperti ini berjalan begitu saja, atau mulai melihat kembali apa yang sebenarnya dibutuhkan rakyat?
Semoga para pemimpin di berbagai tingkatan kembali menoleh kepada masyarakatnya. Tidak hanya ketika ada perayaan, pemilihan, atau kepentingan tertentu, tetapi juga ketika rakyat membutuhkan perhatian dalam kesehariannya.
Sebab negara tidak akan kuat hanya karena memiliki gedung dan jalan yang dibangun. Negara menjadi kuat ketika rakyatnya merasa dilihat, didengar, dihargai, dan tidak ditinggalkan.
Kaperwil NTB: Asfaran







