Gereja Simon Petrus Wadibu Berusia 65 Tahun: Jejak Iman Sejangkah Sejarah, Dari Era Belanda Hingga Kini

filter: 109; fileterIntensity: 0.8; filterMask: 0; hdrForward: 0; brp_mask:0; brp_del_th:null; brp_del_sen:null; delta:null; module: photo;hw-remosaic: false;touch: (-1.0, -1.0);sceneMode: 8;cct_value: 0;AI_Scene: (-1, -1);aec_lux: 0.0;aec_lux_index: 0;HdrStatus: off;albedo: ;confidence: ;motionLevel: -1;weatherinfo: null;temperature: 36;

Biak Numfor, BusurPena.com Dengan penuh sukacita dan rasa syukur yang mendalam, jemaat Gereja Simon Petrus Wadibu memperingati HUT ke-65 gedung ibadah mereka, yang berdiri sejak 6 Agustus 1961. Ibadah perayaan berlangsung khidmat pada Kamis (6/8/2026), dipimpin dalam pelayanan Firman oleh Pdt. Since Paulina Dimara, dan dihadiri sepenuhnya oleh Majelis serta seluruh warga jemaat Gereja Simon Petrus Wadibu.

Usai ibadah, Pdt. Habel Koibur menyampaikan kesan mendalam kepada awak media. Ia menyoroti keistimewaan gedung gereja yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda, sekaligus menjadi bukti nyata semangat luar biasa masyarakat Wadibu yang berhasil mendirikannya dalam waktu singkat.

“Pada masanya, gereja ini adalah satu-satunya gedung ibadah terbaik dan berdesain paling modern di seluruh wilayah Biak Timur. Sungguh luar biasa semangat leluhur kita saat itu,” ungkap Pdt. Habel Koibur.

Di usia ke-65 tahun ini, ia mengajak seluruh jemaat tidak hanya memelihara keindahan bangunan, melainkan lebih-lebih membangun fondasi iman dan moral.

“Tanggung jawab kita bukan hanya pada gedung ini, melainkan membangun iman dan moral jemaat. Gereja juga wajib turut berkontribusi nyata bagi kemajuan kampung, pendidikan, kesehatan, serta pembangunan bangsa dan negara,” tegasnya.

Dalam perayaan yang penuh berkah itu, turut diserahkan bantuan sembako bagi warga yang membutuhkan. Bantuan tersebut disalurkan kepada 26 Kelompok Sasaran Prioritas (Lansia dan Janda), 10 Duda, serta 20 Anak Yatim Piatu. Bantuan ini merupakan wujud kepedulian dan dukungan persaudaraan lintas benua, atas dukungan tulus dari donatur di Amerika Serikat, Bapak George dan Ibu Neti Redge.

“Hari ini saya bersyukur dapat hadir langsung di peringatan ke-65 ini. Semoga jemaat terus hidup dalam firman, penuh rasa syukur, dan menjadi berkat bagi sesama. Semoga Tuhan senantiasa memberkati perkembangan jemaat ke depan, agar kita terus turut membangun Wadibu dan turut membangun negeri ini,” pungkas Pdt. Habel Koibur dengan harapan yang tulus.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *