Ketika Hidup Tidak Sesuai Harapan, Siapa yang Harus Disalahkan?

Ketika Hidup Tidak Sesuai Harapan, Siapa yang Harus Disalahkan?

Oleh: Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M

(Ketua Umum BPIC Kaltim)

Ada kalanya kita merasa sudah berbuat baik, tetapi hidup justru terasa semakin berat. Kita sudah berusaha jujur, bekerja keras, membantu orang lain, dan berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya, tetapi hasil yang datang tidak selalu sesuai dengan harapan. Dalam keadaan seperti itu, diam-diam muncul pertanyaan di dalam hati, “Mengapa hidup saya seperti ini?”

Sebaliknya, ketika sesuatu yang baik datang kepada kita, ketika rezeki mengalir, usaha berhasil, kesehatan diberikan, atau anak-anak mencapai sesuatu yang membanggakan, kita sering merasa bahwa semua itu merupakan hasil dari kerja keras kita sendiri. Kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa keberhasilan itu pantas kita dapatkan karena kita telah berjuang dengan sungguh-sungguh. Tanpa disadari, terkadang kita lupa bahwa di balik setiap keberhasilan selalu ada begitu banyak pertolongan Allah yang tidak pernah kita lihat.

Sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Dzar mengajak kita berhenti sejenak untuk bercermin. Rasulullah ﷺ menyampaikan firman Allah SWT:

​“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya amal-amalmu saja yang Aku perhitungkan bagimu. Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan, maka hendaklah ia memuji Allah dan barangsiapa yang mendapat keburukan, maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.”

Hadis ini tampak sederhana, tetapi menyimpan peta jalan batin yang sangat dalam tentang bagaimana seharusnya seorang hamba menyikapi keberhasilan, kegagalan, dan memandang dirinya sendiri.

Ketika Mendapat Kebaikan, Jangan Buru-Buru Membanggakan Diri

Kita memang harus bekerja keras. Kita harus belajar, berusaha, merencanakan masa depan, memperbaiki kemampuan, dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk hanya duduk menunggu takdir tanpa melakukan ikhtiar, tetapi setelah semua usaha dilakukan dan kebaikan datang kepada kita, hadis ini mengajarkan satu sikap penting: pujilah Allah.

Mengapa kita harus memuji Allah? Karena di balik usaha yang kita lakukan terdapat begitu banyak hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Kita dapat bekerja keras, tetapi kesehatan bukan sepenuhnya berada di tangan kita; kita dapat menyusun rencana, tetapi kesempatan tidak selalu datang sesuai perhitungan; kita dapat mendidik anak sebaik mungkin, tetapi hati dan jalan hidupnya tetap berada dalam kuasa Allah.

Ada begitu banyak hal yang bekerja di balik sebuah keberhasilan yang sering tidak kita sadari. Kita bertemu dengan orang yang tepat, memperoleh kesempatan pada waktu yang tepat, terhindar dari bahaya yang tidak pernah kita ketahui, dan menemukan jalan keluar ketika semua pintu terasa tertutup. Karena itu, ketika keberhasilan datang, jangan hanya berkata, “Ini karena saya hebat.” Akan jauh lebih indah jika hati kita mengatakan, “Alhamdulillah, Allah yang memudahkan.”

Mengucapkan syukur bukan berarti merendahkan usaha yang telah kita lakukan. Justru syukur menempatkan usaha pada tempatnya dan menempatkan Allah pada tempat-Nya. Kita boleh bangga terhadap kerja keras, tetapi jangan sampai kebanggaan itu berubah menjadi kesombongan. Sebab semakin kita menyadari betapa banyak pertolongan Allah dalam perjalanan hidup, semakin kecil kemungkinan kita merasa bahwa semua keberhasilan semata-mata karena kemampuan diri sendiri.

Lalu, Bagaimana Ketika yang Datang Justru Keburukan?

Bagian kedua hadis ini terasa lebih menohok karena menyentuh sisi manusia yang paling sulit yaitu menerima kesalahan diri sendiri. Allah mengingatkan bahwa ketika seseorang mendapatkan keburukan, “janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri.” Kalimat ini bukan berarti setiap musibah yang menimpa seseorang pasti merupakan hukuman atas dosa yang pernah dilakukan, karena ada musibah yang merupakan ujian, ada yang menjadi pembelajaran, dan ada pula yang hikmahnya baru kita pahami jauh setelah peristiwa itu berlalu.

Namun hadis ini mengajarkan kepada kita sebuah sikap penting, yaitu keberanian untuk bercermin. Ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, manusia sering kali lebih mudah mencari kambing hitam daripada mengevaluasi dirinya sendiri. Kita menyalahkan keadaan, menyalahkan orang lain, menyalahkan pasangan, menyalahkan bawahan, menyalahkan pimpinan, bahkan terkadang tanpa sadar mempertanyakan mengapa Allah membiarkan semua itu terjadi kepada kita.

Padahal mungkin ada bagian dari diri kita yang memang perlu diperbaiki. Mungkin keputusan yang kita ambil kurang matang, mungkin kita terlalu terburu-buru, mungkin kita mengabaikan nasihat, mungkin kita terlalu percaya kepada seseorang, atau mungkin kita sudah melihat tanda-tandanya tetapi memilih untuk tidak memedulikannya. Dalam keadaan seperti itu, introspeksi bukan berarti menyiksa diri dengan rasa bersalah, melainkan menemukan bagian yang masih dapat kita perbaiki.

Hidup Tidak Selalu Meminta Kita Mencari Siapa yang Salah

Ada kebiasaan manusia yang sering membuat hidup menjadi lebih berat, yaitu terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan. Ketika sebuah keluarga mengalami masalah, masing-masing sibuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah; ketika organisasi mengalami kegagalan, orang-orang mencari penyebab dari luar dirinya; dan ketika sebuah pekerjaan tidak berhasil, kita berusaha menjelaskan mengapa kegagalan itu bukan kesalahan kita. Kita lupa bahwa mencari kesalahan dan mencari solusi adalah dua hal yang berbeda.

Orang yang matang tidak selalu bertanya, “Siapa yang salah?” Ia mulai belajar bertanya, “Apa yang bisa saya perbaiki?” Pertanyaan kedua jauh lebih menyelamatkan karena kita mungkin tidak mampu mengubah orang lain, tidak selalu dapat mengubah keadaan, dan tidak mungkin memutar kembali waktu. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah cara berpikir, memperbaiki keputusan, memperbaiki sikap, dan menentukan langkah berikutnya.

Ada sebuah kekuatan besar dalam keberanian mengakui kesalahan. Kalimat sederhana seperti “Mungkin saya juga salah” terkadang mampu menyelamatkan sebuah rumah tangga, memperbaiki hubungan yang renggang, atau mengubah arah sebuah organisasi. Orang yang selalu merasa benar akan sulit belajar, sedangkan orang yang berani mengakui kekurangan akan selalu mempunyai ruang untuk tumbuh.

Kegagalan Tidak Selalu Berarti Kehancuran

Kita sering menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang harus disesali sepanjang hidup. Padahal tidak semua kegagalan datang untuk menghancurkan kita; sebagian justru datang untuk menghentikan langkah kita dari jalan yang mungkin keliru. Ada pintu yang tertutup bukan karena Allah ingin membuat kita menderita, tetapi mungkin karena di balik pintu itu ada sesuatu yang tidak baik bagi kehidupan kita.

Kehilangan juga tidak selalu berarti akhir dari segalanya. Terkadang seseorang baru menemukan dirinya setelah kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap sangat penting. Terkadang sebuah kegagalan justru membuat seseorang lebih rendah hati, lebih berhati-hati, lebih dekat kepada Allah, dan lebih memahami arti kehidupan. Karena itu, jangan terlalu cepat memberikan vonis bahwa sebuah peristiwa buruk tidak memiliki kebaikan di dalamnya.

Mungkin kita belum melihat hikmahnya hari ini. Mungkin kita baru memahaminya beberapa tahun kemudian, ketika kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ternyata peristiwa yang dulu kita tangisi telah membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih berarti. Kehidupan memang tidak selalu menjelaskan maksudnya pada saat sebuah peristiwa terjadi. Kadang-kadang Allah meminta kita untuk menjalani terlebih dahulu, bersabar, belajar, lalu memahami hikmahnya kemudian.

Mungkin kita belum melihat hikmahnya hari ini. Mungkin kita baru memahaminya beberapa tahun kemudian, ketika kita menoleh ke belakang dan menyadari bahwa ternyata peristiwa yang dulu kita tangisi telah membawa kita kepada sesuatu yang jauh lebih berarti. Kehidupan memang tidak selalu menjelaskan maksudnya pada saat sebuah peristiwa terjadi. Kadang-kadang Allah meminta kita untuk menjalani terlebih dahulu, bersabar, belajar, lalu memahami hikmahnya kemudian.

Jangan Hanya Bersyukur Ketika Berhasil

​Hadis qudsi ini sesungguhnya mengajarkan keseimbangan hati. Ketika mendapatkan kebaikan, kita diajarkan untuk memuji Allah agar keberhasilan tidak melahirkan kesombongan; ketika mendapatkan keburukan, kita diajarkan untuk melakukan introspeksi agar kegagalan tidak berubah menjadi kebiasaan menyalahkan orang lain. Dua sikap tersebut dapat membuat seseorang menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan.

​Orang yang memahami pesan ini tidak akan mudah mabuk oleh keberhasilan. Ia tahu bahwa kerja keras memang penting, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Ia juga tidak akan mudah hancur ketika mengalami kegagalan, karena ia tahu bahwa selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari dan diperbaiki dari setiap pengalaman.

​Hidup akhirnya bukan sekadar tentang berapa banyak yang kita miliki atau seberapa sering kita berhasil. Hidup juga bukan tentang memastikan bahwa semua keinginan kita terpenuhi. Ada perjalanan batin yang jauh lebih penting, yaitu bagaimana kita menjadi manusia yang semakin bersyukur ketika diberi dan semakin dewasa ketika diuji.

Mungkin Ini Saatnya Kita Bercermin

​Suatu hari, ketika keberhasilan datang kepada kita, mungkin kita perlu bertanya kepada diri sendiri, “Sudahkah saya mengucapkan Alhamdulillah dengan sungguh-sungguh?” Jangan hanya melihat keberhasilan sebagai hasil dari kerja keras pribadi, tetapi lihat pula berapa banyak pertolongan Allah yang menyertai perjalanan tersebut. Bisa jadi keberhasilan itu bukan sekadar penghargaan atas usaha kita, melainkan juga amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

​Begitu pula ketika sesuatu yang buruk menimpa kita, jangan langsung bertanya, “Siapa yang membuat saya seperti ini?” Cobalah mengubah pertanyaan itu menjadi, “Apa yang harus saya perbaiki dari diri saya?” Pergeseran pertanyaan yang sederhana ini dapat mengubah cara kita memandang masalah, karena kita berhenti menjadi korban keadaan dan mulai menjadi manusia yang belajar dari pengalaman.

​Pada usia berapa pun kita sekarang, masih banyak hal yang mungkin perlu kita perbaiki. Masih ada kata-kata yang mungkin perlu kita tarik kembali, sikap yang perlu kita benahi, orang yang mungkin perlu kita mintai maaf, dan nikmat yang selama ini terlalu sering kita anggap biasa. Hidup belum selesai hanya karena kita pernah gagal, dan perjalanan kita belum sempurna hanya karena kita pernah berhasil.

​Maka ketika hari ini Allah memberikan kebaikan kepada kita, jangan lupa mengucapkan Alhamdulillah dengan hati yang rendah. Dan ketika hari ini hidup terasa tidak sesuai harapan, jangan terlalu lama mencari siapa yang harus disalahkan; duduklah sejenak, tenangkan hati, lalu lihatlah ke dalam diri. Bisa jadi, di balik masalah yang sedang kita hadapi, Allah sedang menunjukkan satu bagian dari diri kita yang selama ini perlu diperbaiki.

​Barangkali itulah makna terdalam dari hadis qudsi tersebut. Ketika mendapat kebaikan, arahkan pandangan ke atas dengan rasa syukur; ketika mendapat keburukan, arahkan pandangan ke dalam diri dengan penuh introspeksi. Sebab manusia yang selalu menyalahkan orang lain akan berjalan membawa beban, sedangkan manusia yang mau belajar dari dirinya sendiri akan berjalan membawa hikmah. Dan mungkin, justru dari situlah sebuah perubahan besar dalam kehidupan dimulai.(***Asfaran)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *