TAKALAR, SULSEL, busurpena.com|-Program PELITA (Pena Literasi) yang mengusung kegiatan menulis cerita berbasis bahan bacaan telah dilaksanakan di SMPN 7 Mappakasunggu, Desa Soreang, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar. Kegiatan yang berlangsung secara bertahap ini merupakan salah satu program kerja KKN Tematik Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin yang bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX SMPN 7 Mappakasunggu yang berjumlah 26 orang. Puncak pelaksanaan lomba menulis cerita berlangsung pada Selasa, 4 Agustus 2026, bertempat di ruang kelas SMPN 7 Mappakasunggu, sedangkan pengumuman pemenang dilaksanakan di Aula Kantor Desa Soreang pada hari Minggu, 9 Agustus 2026.
Program PELITA: Pena Literasi merupakan inisiatif yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan literasi siswa melalui pendekatan menulis kreatif berbasis bahan bacaan. Kegiatan ini dilandasi oleh pemahaman bahwa literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca huruf dan kata, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap isi bacaan, kemampuan menganalisis informasi, serta keterampilan menyampaikan kembali apa yang telah dibaca dalam bentuk tulisan yang kreatif dan orisinal.
Program ini menjadi salah satu agenda unggulan dari KKN Tematik Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin yang berlangsung di Kabupaten Takalar. Kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PERPUSNAS) menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan ini, sejalan dengan upaya PERPUSNAS dalam mengadvokasi program bantuan bahan bacaan bermutu untuk mendukung budaya baca dan kecakapan literasi di seluruh pelosok negeri. Dukungan PERPUSNAS tidak hanya berupa bahan bacaan, tetapi juga pendampingan teknis dalam pelaksanaan program literasi di masyarakat.
Tahapan pelaksanaan program ini dimulai dari koordinasi dengan pihak sekolah untuk menentukan jadwal dan tempat kegiatan. Mahasiswa KKN melakukan komunikasi intensif dengan Kepala Sekolah dan guru-guru SMPN 7 Mappakasunggu guna memastikan kelancaran program. Selanjutnya, panitia melakukan inventarisasi buku bacaan bermutu yang tersebar di Perpustakaan Desa Soreang, termasuk koleksi bantuan dari PERPUSNAS. Buku-buku tersebut kemudian dikelompokkan sesuai jenjang usia peserta didik agar sesuai dengan tingkat pemahaman dan minat baca siswa, mengingat peserta berasal dari tiga tingkatan kelas yang berbeda.
Pada tahap pelaksanaan, seluruh 26 siswa diberikan kesempatan untuk memilih buku bacaan dengan tema yang menarik dan inspiratif. Setelah membaca buku secara menyeluruh, siswa diajak untuk mengidentifikasi elemen-elemen penting seperti tema utama, karakter tokoh, alur cerita, latar, serta pesan moral yang terkandung dalam bacaan. Dari hasil analisis tersebut, peserta kemudian mengembangkan ide cerita baru yang orisinal dengan membuat kerangka cerita yang mencakup pendahuluan, konflik, klimaks, resolusi, dan akhir cerita.
Tahap puncak dari program ini adalah lomba menulis cerita yang diselenggarakan di ruang kelas SMPN 7 Mappakasunggu pada hari Selasa, 4 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WITA. Para peserta menuangkan ide kreatif mereka ke dalam bentuk cerita utuh dengan memperhatikan penggunaan bahasa yang sesuai, alur yang mengalir, serta deskripsi yang memadai.
Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa aspek, meliputi pemahaman terhadap bahan bacaan, kreativitas dan pengembangan ide, struktur dan organisasi cerita, penggunaan bahasa, serta penyampaian pesan dan nilai moral. Panitia pelaksana bekerja secara objektif untuk memilih tiga cerita terbaik dari 26 peserta yang telah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Muhammad Fajri, salah satu peserta yang berhasil meraih juara pertama dalam lomba ini, menyampaikan kesannya, *”Saya sangat senang mengikuti program PELITA. Dari membaca buku ‘Alina dan Irama Bambu’, saya mendapatkan inspirasi tentang keberanian dan ketekunan. Saya bisa mengembangkan cerita baru dengan karakter yang saya ciptakan sendiri. Kegiatan ini membuat saya lebih percaya diri untuk menulis dan berbagi cerita. Hadiah yang saya dapatkan juga sangat bermanfaat untuk menunjang kegiatan belajar saya. Terima kasih kepada kakak-kakak KKN Unhas dan PERPUSNAS yang telah mengadakan kegiatan ini.”*
Sementara itu, Guru SMPN 7 Mappakasunggu menyampaikan apresiasinya terhadap program ini, “Kami sangat berterima kasih atas terselenggaranya program PELITA di sekolah kami. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi antara Universitas Hasanuddin dan Perpustakaan Nasional dalam memajukan literasi di daerah kami. Program ini tidak hanya melatih kemampuan literasi siswa, tetapi juga mengembangkan kreativitas dan keberanian mereka untuk mengekspresikan ide melalui tulisan. Melihat antusiasme siswa-siswa, kami berharap program ini dapat meningkatkan displin dan budaya literasi di kalangan siswa.”
Penanggung Jawab Kegiatan ini yaitu Rasmiani menambahkan, “Program PELITA adalah salah satu bentuk pengabdian kami kepada masyarakat dalam bidang pendidikan khususnya literasi. Kami percaya bahwa untuk membangun masyarakat yang ideal diperlukan kesadaran lewat hal-hal kecil salah satu yang terpenting yaitu minat literasi di kalangan generasi muda. Kami juga sangat bersyukur atas dukungan penuh dari PERPUSNAS yang telah menyediakan bahan bacaan bermutu dan pendampingan teknis. Semoga program ini dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi siswa-siswi SMPN 7 Mappakasunggu dan menjadi inspirasi bagi kegiatan literasi di daerah lainnya.”
Program PELITA: Pena Literasi merupakan bagian dari upaya penguatan kecakapan literasi di masyarakat, khususnya di kalangan pelajar. Kegiatan menulis cerita berbasis bahan bacaan ini mengacu pada panduan bahwa mahasiswa KKN sebagai fasilitator berperan dalam membantu jalannya kegiatan sekaligus berkontribusi dalam penguatan kecakapan literasi di masyarakat. Kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menjadi nilai tambah dalam program ini, mengingat PERPUSNAS memiliki komitmen kuat dalam mendorong budaya baca dan literasi di seluruh Indonesia melalui berbagai program bantuan bahan bacaan bermutu dan pendampingan teknis.
Melalui program PELITA, para siswa tidak hanya dilatih untuk gemar membaca, tetapi juga diajak untuk mengasah kreativitas, berpikir kritis, serta menghasilkan karya tulis yang orisinal. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan untuk menumbuhkan kebiasaan gemar membaca, menumbuhkan kecintaan terhadap buku bacaan, melatih kemampuan literasi sejak usia dini, mengembangkan kreativitas dan imajinasi, mendorong kemampuan berpikir kritis, serta menghasilkan karya tulis yang orisinal.
Pengumuman pemenang lomba dilaksanakan di Aula Kantor Desa Soreang pada hari Minggu, 9 Agustus 2026, pukul 10.00 WITA. Acara pengumuman dihadiri oleh para peserta, guru pendamping, perangkat desa, mahasiswa KKN, serta orang tua siswa. Dalam sambutannya, Kepala Desa Soreang menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap program literasi yang melibatkan generasi muda di wilayahnya serta mengucapkan terima kasih kepada Universitas Hasanuddin dan PERPUSNAS yang telah memilih Desa Soreang sebagai lokasi program KKN Tematik Literasi.
Berikut daftar pemenang lomba menulis cerita PELITA: Pena Literasi:
– **Juara 1: Muhammad Fajri** — berhasil menorehkan cerita inspiratif tentang perjuangan meraih mimpi seorang anak dalam mendapatkan juara di perlombaan dengan nilai-nilai persahabatan.
– **Juara 2: Fahreza Pratama** — mengangkat tema petualangan Tuan Irfan dan Ikan Ajaib.
– **Juara 3: Andika Pratama** — menulis cerita tentang petualangan mengelilingi negara Indonesia.
Sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kerja keras para pemenang, panitia memberikan hadiah berupa tas, buku tulis, buku sketsa, alat tulis, alat lukis, dan sertifikat.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk mengadakan program serupa dalam rangka menumbuhkan budaya literasi dan kreativitas menulis di kalangan pelajar. Dengan adanya program PELITA yang merupakan wujud nyata kolaborasi antara KKN Tematik Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin dan PERPUSNAS, diharapkan semakin banyak siswa yang memiliki keberanian untuk menulis, kemampuan berpikir kritis, dan kecintaan terhadap dunia literasi. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam kegiatan ini, “Bangsa yang kuat dimulai dari kebiasaan membaca yang sederhana dan dimanifestasikan ke dalam tulisan yang bermakna.”
(K)








