Biak Numfor, BusurPena.com Bupati Kabupaten Biak Numfor, Markus O. Mansnembra, SH., MM., menjelaskan makna mendalam di balik pelaksanaan Munara Fan Nanggi, salah satu prosesi adat sakral yang menjadi ikon utama dalam rangkaian Festival Budaya Biak Melanesia 2026. Minggu 18/10/2026
Secara sederhana, Fan berarti “memberi makan” dan Nanggi berarti “langit”. Jadi, Fan Nanggi berarti “memberi makan langit” sebuah tradisi syukur masyarakat Biak kepada Sang Pencipta atas hasil perjuangan mereka sepanjang tahun .
“Ini adalah momen ketika masyarakat baik petani maupun nelayan setelah bekerja keras sepanjang tahun, akhirnya tiba saatnya untuk memanen hasil jerih payah mereka. Semua hasil pertanian dan kelautan dikumpulkan di satu tempat, diberkati melalui proses adat oleh para tua adat, lalu dinikmati bersama oleh seluruh masyarakat,” ungkap Bupati Markus.
Tradisi ini telah berjalan selama 2–3 tahun terakhir dan terus dijaga keberadaannya. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor berkomitmen menjadikan Fan Nanggi sebagai ikon budaya yang tidak hanya dirayakan di lingkungan pemerintah, tetapi akan melibatkan lebih banyak kabupaten di masa mendatang.
“Harapan kami, ke depan tradisi ini dapat berkembang lebih luas dan berskala internasional. Kami berencana mengundang negara-negara kawasan Pasifik seperti Fiji, Selandia Baru, dan Palau untuk turut hadir dan menyaksikan perayaan budaya Melanesia ini di Biak,” tegas Bupati Markus.
Munara Fan Nanggi bukan sekadar seremoni, melainkan bukti kearifan lokal masyarakat Biak dalam mensyukuri hasil alam, mempererat persaudaraan, dan menjaga kedaulatan pangan melalui warisan leluhur yang terus dijaga.








