Busurpena.com, Minggu 01 November 2026
TARAKAN – Kegiatan Pelantikan Himpunan Masyarakat Sinjai ( HIMAS ) di Kota Tarakan mencatatkan sukses besar. Jumlah warga yang hadir membludak hingga melampaui target awal panitia pelaksana.
Ketua Panitia, Sukmawaty Arisa Gustih, S.H., M.H., mengatakan panitia semula hanya menargetkan 350 undangan. Namun, antusiasme warga Sinjai yang berdomisili di Tarakan sangat tinggi, hingga jumlah kehadiran mencapai sekitar 600 orang.
“Semula kami menyebar 350 undangan. Kami para panitia sempat berpikir bagaimana menghadirkan 350 orang ini, lalu kami coba sisir dari ujung ke ujung, dan ternyata banyak,” ujar Sukmawaty di sela kegiatan, Minggu (01/11/2026).
Ia menjelaskan, persiapan acara tersebut memakan waktu kurang lebih satu bulan sejak pembentukan panitia hingga hari pelaksanaan, tanpa banyak melakukan rapat koordinasi formal.
Tingginya animo masyarakat terlihat dari panitia yang harus menambah 100 kursi tambahan di dalam ruangan untuk menampung tamu undangan yang terus berdatangan.

Menurut Sukmawaty, membludaknya warga menjadi bukti tingginya rasa kebersamaan masyarakat Sinjai di perantauan, meskipun diakui masih ada sebagian masyarakat Sinjai yang belum sepenuhnya mengetahui keberadaan wadah atau himpunan tersebut di Tarakan.
Terkait pembiayaan, Sukmawaty mengungkapkan dana kegiatan bersumber dari iuran warga Sinjai dan dukungan para donatur. Pihaknya menyampaikan apresiasi khusus kepada salah satu donatur utama, H. Najamuddin yang akrab disapa Haji Lontong.
“Terima kasih kepada Haji Najamuddin atas support-nya kepada masyarakat Sinjai. Beliau berpesan, ‘Silakan mau bikin apa, nanti saya support’,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua HIMAS Kota Tarakan, Saefullah, SE., CPLA., menjelaskan pemilihan tanggal 1 November 2026 sengaja diambil dengan mengusung tema “Masyarakat Sinjai Bersatu Menjunjung Kearifan Lokal dan Bersinergi Untuk Tarakan HIBOT”.
Saefullah memaparkan, tema tersebut memiliki makna filosofis yang dalam. Filosofi “Assinjai” mencerminkan sejarah bersatunya tiga kerajaan pesisir dengan tujuh kerajaan di kaki gunung. Hal ini menjadi prinsip bahwa persatuan tidak perlu diperdebatkan lagi alasannya.
“Acara ini juga menjadi momen kebahagiaan karena para peserta dapat kembali mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan dan kebanggaan budaya,” kata Saefullah.

Ia menambahkan, secara historis, Sinjai juga merupakan tempat pertemuan perdamaian antara Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa. Bukti sejarah tersebut diperkuat dengan adanya situs penandatanganan perjanjian yang dikenal sebagai Lamung Patue di Sinjai Utara, yang hingga kini masih lestari sebagai simbol perdamaian antar-kerajaan.
Tujuan utama dibentuknya wadah kebersamaan ini, lanjut Saefullah, adalah untuk mencari kedamaian, bersatu, serta meleburkan diri dalam satu wadah guna mengekspresikan kreativitas, berimprovisasi, dan berkolaborasi dalam membangun masa depan bersama di Kota Tarakan.
Editor : BP – AR







