Sebagian orang Papua menjadikan kata “merdeka” seperti tombol darurat setiap kali kecewa.
Kalah pilkada teriak merdeka, kalah tender proyek teriak merdeka, kalah pertandingan sepak bola pun teriak merdeka.
Seolah-olah kemerdekaan adalah obat mujarab untuk semua kekalahan pribadi.
Ironisnya lagi saat anak-anak sekolah lulus ujian berteriak merdeka sambil menunjukkan simbol-simbol euforia politik layaknya perayaan tanpa makna mendalam.
Padahal perjuangan politik bangsa Papua semestinya lahir dari kesadaran dan gagasan dan bukan sekadar luapan emosi sesaat.








