Busurpena.com| Minggu, 12 Juli 2026.
Lebak – Upaya melestarikan warisan budaya bangsa kembali ditunjukkan melalui kolaborasi seni budaya pencak silat dan debus yang digelar oleh Paguron Jalak Banten Nusantara (PJBN) DPD Kabupaten Lebak bersama Padepokan Macan Pusaka Santri asal Kecamatan Malingping.
Penampilan kolaborasi tersebut berlangsung dalam rangka memeriahkan acara tasyakuran khitanan yang diselenggarakan di Kampung Bahbul, RT 002/RW 002, Desa Citeras, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, pada Minggu (12/7/2026).
Atraksi pencak silat yang dipadukan dengan seni debus mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Penonton tampak antusias menyaksikan berbagai demonstrasi ketangkasan, kekompakan, serta nilai-nilai budaya Banten yang ditampilkan oleh para pendekar dari kedua perguruan.
Ketua PJBN DPD Kabupaten Lebak, Ade Supriadi, mengatakan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan seni budaya pencak silat sebagai identitas budaya Banten kepada generasi muda.
“Melalui kolaborasi ini kami ingin menunjukkan bahwa pencak silat bukan hanya bela diri, tetapi juga warisan budaya yang mengandung nilai persaudaraan, disiplin, dan penghormatan terhadap tradisi. Kami berharap kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat,” ujar Ade Supriadi.
Sementara itu, Guru Besar Padepokan Macan Pusaka Santri, Abh. Usman, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya sinergi antara kedua perguruan. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya akan semakin kuat apabila dilakukan secara bersama-sama.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi perguruan-perguruan lain untuk terus menjaga persatuan serta bersama-sama melestarikan seni budaya pencak silat dan debus sebagai kebanggaan masyarakat Banten,” ungkap Abh. Usman.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PJBN DPD Kabupaten Lebak dan Padepokan Macan Pusaka Santri berharap seni budaya pencak silat dan debus dapat terus hidup, berkembang, serta diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
(Dion Nasution)







