GOWA,SULSEL, busurpena.com|– Tekanan warga terdampak Bendungan Jenelata di Desa Pattallikan, Kabupaten Gowa semakin menguat. Dalam hasil musyawarah yang digelar belum lama ini, warga bulat bertekad melakukan aksi unjuk rasa dan menutup aktivitas proyek jika tuntutan pembayaran ganti rugi tidak segera direalisasikan pemerintah.
Sebagian besar warga Desa Pattallikan mengaku proses ganti rugi lahan yang terkena proyek Bendungan Jenelata belum rampung sepenuhnya.
Masalah lain yang dikeluhkan warga adalah pengukuran lahan yang tidak merata. Beberapa lahan warga sudah diukur tim, namun banyak juga yang sampai sekarang belum pernah diukur sama sekali. Kondisi ini dinilai menambah ketidakpastian dan keresahan di tengah masyarakat.
Lebih berat lagi, warga juga mengeluhkan dampak lingkungan berupa longsor di beberapa titik pemukiman dan persawahan. Longsor tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas proyek dan perubahan kontur tanah di sekitar bendungan, sehingga mengancam rumah warga serta merusak lahan pertanian produktif.
Warga kini mengaku takut tertimbun longsor saat beraktivitas di lahan persawahannya. Kondisi tebing dan tanah yang labil membuat petani was-was setiap kali menggarap sawah di sekitar area proyek.
Warga merasa dianak-tirikan oleh pemerintah dan pelaksana proyek. Minimnya komunikasi, lambatnya penanganan ganti rugi, serta tidak meratanya pengukuran membuat warga menilai hak-hak mereka tidak mendapat perhatian yang sama.
Upaya warga sebenarnya sudah dilakukan. Perwakilan warga sebelumnya sudah pernah melakukan musyawarah ke BPN dan pihak terkait di Kabupaten Gowa. Namun hasilnya belum memuaskan, karena warga hanya dijanjikan waktu satu minggu untuk diberikan penjelasan lebih lanjut terkait status ganti rugi dan pengukuran lahan.
Daeng Kulle yang selama ini selalu menjadi perwakilan warga Desa Pattallikan, menyampaikan keresahan masyarakat di hadapan forum musyawarah.
“Kami sudah ke BPN, tapi cuma dijanjikan seminggu untuk diberi penjelasan. Sampai sekarang belum ada kepastian. Ada yang sudah diukur, ada yang belum. Sekarang malah ada longsor di pemukiman dan sawah kami. Kami takut tertimbun saat turun ke sawah. Rasanya kami dianak-tirikan,” ujar Daeng Kulle, Rabu 1 Juli 2026.
Hasil musyawarah warga Desa Pattallikan menegaskan sikap tegas. Mereka memberi ultimatum: apabila sampai hari Sabtu pekan ini belum ada respon dari pihak proyek bendungan atau pihak pemerintah, maka warga akan turun unjuk rasa dan menutup aktivitas proyek Bendungan Jenelata.
“Ini keputusan bersama warga. Kami kasih batas waktu sampai Sabtu. Kalau tetap diam, kami akan tutup lokasi proyek. Kami tidak main-main, karena ini soal hak, tanah, dan keselamatan kami,” tegas Daeng Kulle.
Bendungan Jenelata merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional di Sulawesi Selatan yang ditargetkan untuk irigasi, penyediaan air baku, dan pengendalian banjir di wilayah Gowa dan sekitarnya.
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari pelaksana proyek maupun Pemerintah Kabupaten Gowa terkait jadwal tuntasnya pengukuran, pembayaran ganti rugi, penanganan longsor, dan respons atas ultimatum warga Desa Pattallikan.
(kamal)








