Siri’na Pacce Direbut Politik, Saatnya Dikembalikan Jadi Etika

GOWA, SULSEL,Rabu 22 Juli 2026

busurpena.com|— Di tanah Bugis-Makassar, orang tua dulu tidak mengajarkan banyak teori. Cukup dua kata: Siri’dan Pacce.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Siri’ artinya malu berbuat salah. _Pacce_ artinya pedih melihat orang susah.

Dua kata itu yang dulu menjaga kampung tetap rapi. Ada pejabat main anggaran, satu kampung ikut malu. Ada warga tertimpa musibah, tanpa diumumkan pun satu kampung bergerak bawa beras dan tenaga.

Tapi beberapa tahun terakhir, dua kata itu mulai sering kita temui di tempat yang berbeda. Bukan di pesan orang tua, tapi di spanduk. Bukan di musyawarah kampung, tapi di pidato politik. Bukan di aksi gotong royong, tapi di narasi media sosial.

Sekarang jurnalis dan pemerhati budaya memberikan pandangannya.

“Ini bahayanya,” kata Kamal, jurnalis dan pemerhati budaya. “Begitu Siri’na Pacce dipakai untuk membenarkan posisi salah satu pihak, dia berubah fungsi. Dari pemersatu jadi pemisah.”

Berbekal pengalamannya turun ke lapangan, Kamal melihat bagaimana narasi budaya bisa dipakai secara selektif saat musim politik tiba. Nilai yang mestinya mengikat semua orang, dipotong-potong untuk menguatkan “kelompok kita”.

Ia memberi contoh sederhana.
Siri’ seharusnya membuat pejabat mana pun malu kalau menyalahgunakan anggaran. Bukan hanya malu kalau ketahuan oleh lawan politik.
Pacce seharusnya membuat kita membantu siapa saja yang butuh. Tanpa tanya dulu dia pilih siapa, dari partai mana, dari desa mana.

“Kalau kita tarik ke kubu-kubuan, maka Siri’ hanya berlaku untuk ‘kita’, dan Pacce hanya untuk ‘kelompok kita’. Padahal ruhnya adalah kemanusiaan,” jelasnya.

Akibatnya, kata Kamal, masyarakat jadi sinis. Lama-lama orang alergi dengar kata Siri’na Pacce. Padahal kampung sekarang justru paling butuh rem dan kompas itu. Butuh rasa malu untuk tidak korupsi. Butuh rasa pedih untuk tidak tinggal diam saat tetangga susah.

Menurut Kamal, jalan keluarnya bukan menjauh dari politik. Politik tetap butuh etika. Jalan keluarnya adalah mengembalikan Siri’na Pacce ke tempatnya semula: sebagai etika yang menimbang semua pihak, bukan senjata untuk memukul lawan.

“Pakai untuk menimbang. Jangan pakai untuk memukul,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi menampar. Karena selama Siri’na Pacce masih dipakai untuk membenarkan yang salah dan menutup mata pada yang susah, maka kampung akan sulit kembali rapi seperti dulu.

Mungkin sudah saatnya kita kembalikan Siri’na Pacce ke rumahnya. Ke rumah keluarga, ke rumah sekolah, ke rumah pemerintahan. Bukan dipajang di spanduk, tapi dihidupkan dalam tindakan.

Karena pada akhirnya, kampung yang kuat bukan kampung yang paling keras teriak budayanya. Tapi kampung yang paling malu berbuat zalim, dan paling cepat bergerak saat ada yang jatuh.

(kamal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *